Cerpen Hari Guru
TERIMA KASIH GURU KU
Cipt : Tata Vegya Pradipta
Jam sudah menunjukkkan pukul 13:00.
“Adi sini makan ini udah disiapin”, panggil Ibu Adi dari dapur.
“Iyah Bu, sebentar”, sahut Adi dari kamar.
Adi pun bergegas karena sudah sedaritadi menahan lapar.
“Tadi gimana ulangan matematikanya”, tanya Ibu sambil mengambilkan nasi untuk Adi.
“Yaa biasa Bu dapet 3’, cetusnya.
“Makanya kamu tuh kalo dikelas itu dengerin guru ngejelasin jangan main mulu”
“udah Bu, sudah Adi dengarkan sebisa Adi, tapi kan gurunya juga gak asik, harus serius mulu kalo belajar”, jelas Adi.
“Kalo belajar itu yang ikhlas nak”, Ibu menjawab.
“Iya bu”.
Selesai makan adi beranjak ke kamar.
“Adii…Adi..main yokk”, teman-teman Adi memanggil.
Adi pun keluar rumah karena dipanggil oleh temannya untuk diajak main.
“Buu, Adi main dulu”.
“Kamu sudah selesaikan pr nya, Nak?”.
“Sudah Bu”.
“Emang pr dari Bu Eka kamu sudah Di, liat dong”, sahut temannya..
“Belom sihh, udah yuk main ahh”.
“Ayokkk”.
Esok paginya Bu Eka masuk kelas jam pertama. Murid kelas VIII-B sudah duduk rapi.
“Anak-anak kumpulkan segera prnya”, pinta Bu Eka.
“Baik Bu Eka”,jawab murid.
“Ehh kamu udah belum?”,Tanya Rojak.
“Ehh iya Adi semalem ketiduran”, paniknya.
“Ran, Rani liat dong pr”, bisik Adi
“Makanya kalo abis pulang sekolah tuh kerjain pr dulu, baru main, byee”, ejek Rani.
“dihh Rani liat bentar”.
“Adi kenapa kamu?”, tanya Bu Eka.
“Ehhh anu Bu anu”, Adi panik.
“Anu anu apa, pasti kamu belum ngerjain pr kan”, Bu Eka sudah bisa menebak.
“Berdiri kamu didepan kelas”.
“Adi, Adi, gak bosen”, ketawa teman-temannya.
“Usstt”.
“Wahhh guru itu siapa, perasaan baru liat, cantik lagi, apa mau ngajar disini, semoga aja penggantinnya Bu Eka”, berbicara sendiri didepan kelas.
Guru tersebut akan pergi ke kantor, yang terletak tak jauh dari kelas VIII, kelas Adi. dan akan melewati Adi.
“Kamu lagi nagapain?”, tanya guru cantik.
“Emmmm”, Adi ragu untuk menjawab.
“Kamu pasti dihukum kan karena gak ngerjain pr?”, tebak Bu cantik.
“Hehehe iya Bu”.
“Yasudah Ibu permisi dulu yahh, semangat”.
“Pasti Bu semangat”, riangnya.
Pekan esoknya. Adi berharap semoga guru yang ia lihat kemarin mengajar kelas dia.
“Anak-anak kenalin ini Bu Feti, guru penggati Bu Eka soalnya dua bulan ke depan Bu Eka akan keluar kota”, Bu Indah guru Bahasa Indonesia memperkenalkan Bu Feti.
“Yeaahhhhhhh”, semangat Adi membuat semua kaget.
“Kamu kenapa Adi”, tanya Bu Indah.
“Gakpapa kok Bu hehehe”.
“Yasudah kalian lanjutkan belajarnya”.
“baik Buu”.
Pembelajaran pun dimulai seperti biasa, semua terlihat senang begitu pun Adi yang terlihat semangat sekali diajar oleh Bu Feti.
“Kalian belajarnya sudah sampai mana”.
“Materinya sampai bab aljabar Bu”, Adi jawab dengan semangat.
“Ehh Adi kenapa sihh, jadi anehh gitu, jadi semangat”, bisik-bisik temannya.
“Bagus dehh kalo udah berubah, bosen liat dia dihukum Bu Eka mulu”.
Sepulang Sekolah, Adi Nampak begitu semangat, dan ceria. Tidak seperti biasanya yang terlihat kusut mukannya dari masuk sekolah hingga bel pulang sekolah.
“Padahal pengen belajar matematika lebih lama lagi, ehh taunya bel pulang”, kesal Adi
“Kenapa kamu tiba-tiba berubah gini?”, tanya Eva.
“Harusnya bagus dong aku jadi semangat gini”, Adi percayadiri.
“Iya,iyah tapi kan aneh gitu gak kayak Adi biasanya”.
“Hidup itu harus berubah jadi lebih baik, dari hari kemarin”, bijak Adi.
“Tumben kamu bijak, Di”, teman-temannya tidak ada yang percaya.
“Kan ngejek kan, Bu Feti itu baik, cantik, kalo ngajar juga enak, gak tegang kayak diajar Bu Eka, terus make cara yang sederhana gak rumit dan panjang, terus kan kalo abis belajar kita main matematika, pokonya asik banget, yukk kita pulang”, riang gembiranya Adi.
“emmmiya deh semoga aja abis ini nilai mtk kamu jadi 100”.
“aminnnnnnnnnnnnnn”, disambung teman sekelasnya.
“Makasih teman-teman yang saya sayangi”.
Bu Feti melihat riwayat nilai Adi dan teman sekelasnya, semuanya nilainya terlihat bagus, tidak dengan Adi yang selalu mendapat nilai dibawah 5.
“Adipurta Harjo mengapa dari semester awal hingga kini nilai dia tidak ada perubahan, sepertinya saya harus merubahnya”.
Seiringnya waktu berjalan Adi selalu mendapatkan nilai tertinggi dikelasnya, teman-temannya juga tidak ada yang percaya Adi bisa seperti ini, begitupun orangtua Adi setiap malam ia melihat Adi mengerjakan pr dengan semangat.
Hari ini Adi dan teman-teman sekolahnya mendapatkan kabar buruk, bahwa Bu Feti mengalami kecelakaan ketika hendak pulang kerumah pekan lalu. Kini Bu Feti harus dirawat dirumah sakit karena mengalami luka yang serius dibagian kakinya.
“Hari ini pulang sekolah kita jenguk Bu Feti yuk”, ajak Suci
“Kasihan Adi yang biasanya semangat 45, malah berubah jadi nol kayak dulu”.
“Iyah ayukk aku pengen ketemu banget sama Bu Feti, kangen”.
“Selamat siang Bu Feti, gimana kondisinya apa sudah enakkan?”, tanya Tono teman Adi.
“Iyah Ibu Alhamdulillah sudah enakan, tapi kaki masih bengkak dan belum bisa jalan”.
“Cepet sembuh yahh Bu, kita pengen diajar sama Ibu lagi”.
“Iyah bu kita doain semoga Ibu lekas sembuh, dan bisa ngajar lagi”.
“Terima kasih anak-anak, Ibu sayang kalian”.
“Kita juga sayang sama ibu”.
Hari ini terasa berbeda bagi seorang Adi, yang terlihat sedih ketika mengetahui bahwa guru yang selama ini membimbing dia dalam belajar, masuk rumah sakit dan harus dirawat untuk beberapa bulan.
“Adi udah jangan sendih, mending kita doain Bu Feti supaya cepet sembuh dan bisa ngajar kita lagi”
“Iyah makasih Lusi”
“Selamat pagi anak-anak”, Bu Eka masuk kelas VIII-B.
“Selamat pagi bu”, murid menjawab.
“Hah bu eka udah balik”, bisik-bisik murid sekelas
“Mari kita lanjutkan pelajarannya”
Pelajaran hampir selesai.
“Jangan Lupa minggu depan kita ulangan, dan Ibu harap kalian bisa dapat nilai yang terbaik”.
Ulangan segera berlangsung, semua tampak sibuk membaca buku, tidak dengan Adi, ia lebih memilih jajan di kantin. Bel pun berbunyi ia bergegas ke kelas.
“Selamat pagi anak-anak, selamat mengerjakan”.
Terlihat Adi seperti begitu sulit untuk mengerjakannya, entah apa yang dia isi.
Minggu esoknya nilai dibagikan , satu persatu murid dipanggil.
“Abi wahyu”.
“Adiputra Harjo”.
“Kayaknya Adi dapet 100 deh”, tebak teman-teman Adi.
“kamu dapet berapa Di?”.
“Tuh liat”.
“Masa iyasih kamu dapet 3 lagi gak mungkin kan kamu sekarang nilainya dapet 100 mulu”.
Adi yang terlihat biasa saja dan tak menghiraukan omongan teman-temanya yang tidak percaya ia kembali seperti Adi dulu.
Bu Eka sedang menyapu halaman depan rumahnya.
“Selamat Sore, Bu Eka”, Bu Jamin menyapa Bu Eka.
“Selamat sore Bu Jamin”
“Bu ini saya punya beberapa brosur mengenai Lomba Olimpiade Matematika Se-Provinsi, siapa tau murid-murid Ibu ada yang tertarik”, tawarnya.
“Wahh terima kasih Bu, saya yakin anak-anak saya semua ingin ikut acara ini”.
“Sama-sama Bu”.
Keesokannya brosur tersebut dipajang dimading masing-masing kelas. Tak sengaja Adi melihat itu.
“Olimpiade Matematika Se-Provinsi akan diselenggarakan tanggal 24 November 2018, di Sekolah SMA 21 Karya Mandiri, masing-masing sekolah mengirinkan 1 tim terdiri dari 3 orang”, Adi baca dalam hati.
“Di ikutan yukk, banyak tau yang ikutan”, ajak Sanja.
“Enggak lah”.
Sepulang sekolah Adi terlihat sendirian di taman sekolah yang sudah sepi, tak banyak yang ia pikirkan ia pun mengambil brosur olimpiade tersebut, ia pun pergi untuk menengok Bu Feti dirumah sakit.
“Pagi Bu Feti, gimana kabarnya Bu?”.
“Alhamdulillah sudah lumayan baikan Adi, tumben Adi kesini sendiri, temen-temennya kemana?”.
“Heheh Adi kesini Sendiri Bu”.
“Kamu bawa apa itu, boleh Ibu lihat”.
“Ohhhh bagus ini Olimpiade Matematika Se-Provinsi lagi, Ibu yakin kamu pasti bisa, kamu ikutkan”, tebak Bu Feti.
Adi terdiam.
“Mending kamu pikirkan baik-baik, tapi ibu akan sangat bangga jika kamu ikuta serta dalam lomba ini, jarang-jarang juga kan sekolah kita ikutan lomba, apalagi nanti kamu yang akan jadi juara. Mending sekarang kamu pulang pikirkan lagi, ini adalah kesempatan buat kamu juga, jangan lupa untuk berdoa, dan minta pentunjuk, Sesungguhnya hanya kepada Allah kita berserah diri”, tutur Bu Feti.
“Baik Bu”.
Satu Minggu sebelum lomba semua terlihat sibuk membuka buku. Adi yang eterlihat begitu santai seperti dipantai.
“Di, ayoo ke aula seleksi yang mau ikut olimpiade mtk, 5 menit lagi tau”.
“Hah emng iya, kok gak ada pengumannya”, Adi terkejut.
“Kamu kemana aja dari kemarin juga udah diumumim, hayuu”.
Sesampainya di Aula, ada banyak sekali murid yang antusias, ada kepala sekolah dan Bu Eka yang mantau.
“Aihh gimana ini aku kan gak belajar”, Adi terlihat panic sebelum diberi soal.
“Semuanya waktu kalian hanya 60 menit, kerjakan dari sekarang”.
Esoknya sangat ramai didepan kantor untuk melihat hasil pengumumannya dimading.
“Wah Adi kamu nomer 1, kamu lolos kamu bisa ikut olimpiade”, ucap Tati.
“Ahhh masa”, Adi terkejut
“Adi, Vita kita satu tim”, sahut Rani
“Siap bos Rani”, kompak Adi dan Vita.
Seminggu sebelum lomba kita dibimbing belajar oleh Bu Eka, beliau memberikan kita banyak soal untuk latihan sehari-hari.
Tepat hari ini Adi, Vita, dan Rani untuk lomba, 5 menit lagi lomba akan dimulai. Dua jam sudah mengerjakan. Semua peserta dimohon untuk menunggu satu jam untuk melihat hasilnya. Satu jam sudah menunggu. Adi Melihat sosok dengan kursi roda dengan paras yang cantik masuk dari pintu, yaa benar itu Bu feti Adi senang sekali Bu Feti hadir disini.
“Dan Juara 1 dimenangkan oleh sekolah SMP 3 Gunung Jati”, pembawa acara mengumumkan.
Semua terkejut dan akhirnya bersorak gembira karena Adi dan dan teman-temanya berhasil mendapat Juara 1 Olimpiade Matematika Se-Provinsi. Adi dan teman-temanya pun segera menuju Bu Feti dan Bu Eka, mereka berterima kasih telah meminbimbing kami
“Selamat kalian ibu bangga punya murid seperti kalian”, tutur Bu Feti.
“Terima kasih yah Bu berkat doa dan support Ibu, Adi jadi yakin kalo Adi pasti bisa menghadapi ini, terima kasih udah mau membimbing Adi hingga Adi bisa seperti ini, jasa Ibu akan Adi kenang selalu, terima kasih Bu, ini adalah kado terindah untuk hari guru“, Adi terlihat sedih dan bahagia.
“Terima kasih yah bu udah mau membimbing kami dengan ikhlas , maafin kami juga kalo selama ini perilaku kami membuat Ibu sedih”, lanjut Rani.
“Iyah Bu, Vita minta maaf kalo selama ini Vita punya salah. Vita berterima kasih sama Ibu dan Ibu guru lainnya yang sudah membimbing Vita selama ini”, sambung Vita.
“Maafin Adi yah Bu Eka, Adi selama ini salah , Adi tahu Ibu pasti pengen semua muridnya rajin, pinter, dan jadi orang sukses , dan semua guru mempunyai cara berbeda untuk mengajar, maafin Adi ya Bu, Adi gak pernah ngerjain pr”, tangis Adi
Semua gembira dan bercampur haru. Semua guru punya misi yaitu menjadikan muridnya menjadi siswa/i yang berprestasi, teladan, rajin, dan semua guru memupunyai cara yang berbeda dalam mengajar. Tidak ada guru yang menginginkan muridnya jatuh. Sesukses-suksesnya kita nanti jangan pernah melupakan jasa seorang guru, kita seperti ini kalau bukan berkat kerjakeras dan doa mereka, kita tidak mungkin bisa sampai seperti ini, walaupun guru tidak selalu ada disaat kita jatuh, tapi karena doa mereka kita bisa bangkit. Terima kasih untuk para guru yang telah mendidik dan membimbing kami.
Cipt : Tata Vegya Pradipta
Jam sudah menunjukkkan pukul 13:00.
“Adi sini makan ini udah disiapin”, panggil Ibu Adi dari dapur.
“Iyah Bu, sebentar”, sahut Adi dari kamar.
Adi pun bergegas karena sudah sedaritadi menahan lapar.
“Tadi gimana ulangan matematikanya”, tanya Ibu sambil mengambilkan nasi untuk Adi.
“Yaa biasa Bu dapet 3’, cetusnya.
“Makanya kamu tuh kalo dikelas itu dengerin guru ngejelasin jangan main mulu”
“udah Bu, sudah Adi dengarkan sebisa Adi, tapi kan gurunya juga gak asik, harus serius mulu kalo belajar”, jelas Adi.
“Kalo belajar itu yang ikhlas nak”, Ibu menjawab.
“Iya bu”.
Selesai makan adi beranjak ke kamar.
“Adii…Adi..main yokk”, teman-teman Adi memanggil.
Adi pun keluar rumah karena dipanggil oleh temannya untuk diajak main.
“Buu, Adi main dulu”.
“Kamu sudah selesaikan pr nya, Nak?”.
“Sudah Bu”.
“Emang pr dari Bu Eka kamu sudah Di, liat dong”, sahut temannya..
“Belom sihh, udah yuk main ahh”.
“Ayokkk”.
Esok paginya Bu Eka masuk kelas jam pertama. Murid kelas VIII-B sudah duduk rapi.
“Anak-anak kumpulkan segera prnya”, pinta Bu Eka.
“Baik Bu Eka”,jawab murid.
“Ehh kamu udah belum?”,Tanya Rojak.
“Ehh iya Adi semalem ketiduran”, paniknya.
“Ran, Rani liat dong pr”, bisik Adi
“Makanya kalo abis pulang sekolah tuh kerjain pr dulu, baru main, byee”, ejek Rani.
“dihh Rani liat bentar”.
“Adi kenapa kamu?”, tanya Bu Eka.
“Ehhh anu Bu anu”, Adi panik.
“Anu anu apa, pasti kamu belum ngerjain pr kan”, Bu Eka sudah bisa menebak.
“Berdiri kamu didepan kelas”.
“Adi, Adi, gak bosen”, ketawa teman-temannya.
“Usstt”.
“Wahhh guru itu siapa, perasaan baru liat, cantik lagi, apa mau ngajar disini, semoga aja penggantinnya Bu Eka”, berbicara sendiri didepan kelas.
Guru tersebut akan pergi ke kantor, yang terletak tak jauh dari kelas VIII, kelas Adi. dan akan melewati Adi.
“Kamu lagi nagapain?”, tanya guru cantik.
“Emmmm”, Adi ragu untuk menjawab.
“Kamu pasti dihukum kan karena gak ngerjain pr?”, tebak Bu cantik.
“Hehehe iya Bu”.
“Yasudah Ibu permisi dulu yahh, semangat”.
“Pasti Bu semangat”, riangnya.
Pekan esoknya. Adi berharap semoga guru yang ia lihat kemarin mengajar kelas dia.
“Anak-anak kenalin ini Bu Feti, guru penggati Bu Eka soalnya dua bulan ke depan Bu Eka akan keluar kota”, Bu Indah guru Bahasa Indonesia memperkenalkan Bu Feti.
“Yeaahhhhhhh”, semangat Adi membuat semua kaget.
“Kamu kenapa Adi”, tanya Bu Indah.
“Gakpapa kok Bu hehehe”.
“Yasudah kalian lanjutkan belajarnya”.
“baik Buu”.
Pembelajaran pun dimulai seperti biasa, semua terlihat senang begitu pun Adi yang terlihat semangat sekali diajar oleh Bu Feti.
“Kalian belajarnya sudah sampai mana”.
“Materinya sampai bab aljabar Bu”, Adi jawab dengan semangat.
“Ehh Adi kenapa sihh, jadi anehh gitu, jadi semangat”, bisik-bisik temannya.
“Bagus dehh kalo udah berubah, bosen liat dia dihukum Bu Eka mulu”.
Sepulang Sekolah, Adi Nampak begitu semangat, dan ceria. Tidak seperti biasanya yang terlihat kusut mukannya dari masuk sekolah hingga bel pulang sekolah.
“Padahal pengen belajar matematika lebih lama lagi, ehh taunya bel pulang”, kesal Adi
“Kenapa kamu tiba-tiba berubah gini?”, tanya Eva.
“Harusnya bagus dong aku jadi semangat gini”, Adi percayadiri.
“Iya,iyah tapi kan aneh gitu gak kayak Adi biasanya”.
“Hidup itu harus berubah jadi lebih baik, dari hari kemarin”, bijak Adi.
“Tumben kamu bijak, Di”, teman-temannya tidak ada yang percaya.
“Kan ngejek kan, Bu Feti itu baik, cantik, kalo ngajar juga enak, gak tegang kayak diajar Bu Eka, terus make cara yang sederhana gak rumit dan panjang, terus kan kalo abis belajar kita main matematika, pokonya asik banget, yukk kita pulang”, riang gembiranya Adi.
“emmmiya deh semoga aja abis ini nilai mtk kamu jadi 100”.
“aminnnnnnnnnnnnnn”, disambung teman sekelasnya.
“Makasih teman-teman yang saya sayangi”.
Bu Feti melihat riwayat nilai Adi dan teman sekelasnya, semuanya nilainya terlihat bagus, tidak dengan Adi yang selalu mendapat nilai dibawah 5.
“Adipurta Harjo mengapa dari semester awal hingga kini nilai dia tidak ada perubahan, sepertinya saya harus merubahnya”.
Seiringnya waktu berjalan Adi selalu mendapatkan nilai tertinggi dikelasnya, teman-temannya juga tidak ada yang percaya Adi bisa seperti ini, begitupun orangtua Adi setiap malam ia melihat Adi mengerjakan pr dengan semangat.
Hari ini Adi dan teman-teman sekolahnya mendapatkan kabar buruk, bahwa Bu Feti mengalami kecelakaan ketika hendak pulang kerumah pekan lalu. Kini Bu Feti harus dirawat dirumah sakit karena mengalami luka yang serius dibagian kakinya.
“Hari ini pulang sekolah kita jenguk Bu Feti yuk”, ajak Suci
“Kasihan Adi yang biasanya semangat 45, malah berubah jadi nol kayak dulu”.
“Iyah ayukk aku pengen ketemu banget sama Bu Feti, kangen”.
“Selamat siang Bu Feti, gimana kondisinya apa sudah enakkan?”, tanya Tono teman Adi.
“Iyah Ibu Alhamdulillah sudah enakan, tapi kaki masih bengkak dan belum bisa jalan”.
“Cepet sembuh yahh Bu, kita pengen diajar sama Ibu lagi”.
“Iyah bu kita doain semoga Ibu lekas sembuh, dan bisa ngajar lagi”.
“Terima kasih anak-anak, Ibu sayang kalian”.
“Kita juga sayang sama ibu”.
Hari ini terasa berbeda bagi seorang Adi, yang terlihat sedih ketika mengetahui bahwa guru yang selama ini membimbing dia dalam belajar, masuk rumah sakit dan harus dirawat untuk beberapa bulan.
“Adi udah jangan sendih, mending kita doain Bu Feti supaya cepet sembuh dan bisa ngajar kita lagi”
“Iyah makasih Lusi”
“Selamat pagi anak-anak”, Bu Eka masuk kelas VIII-B.
“Selamat pagi bu”, murid menjawab.
“Hah bu eka udah balik”, bisik-bisik murid sekelas
“Mari kita lanjutkan pelajarannya”
Pelajaran hampir selesai.
“Jangan Lupa minggu depan kita ulangan, dan Ibu harap kalian bisa dapat nilai yang terbaik”.
Ulangan segera berlangsung, semua tampak sibuk membaca buku, tidak dengan Adi, ia lebih memilih jajan di kantin. Bel pun berbunyi ia bergegas ke kelas.
“Selamat pagi anak-anak, selamat mengerjakan”.
Terlihat Adi seperti begitu sulit untuk mengerjakannya, entah apa yang dia isi.
Minggu esoknya nilai dibagikan , satu persatu murid dipanggil.
“Abi wahyu”.
“Adiputra Harjo”.
“Kayaknya Adi dapet 100 deh”, tebak teman-teman Adi.
“kamu dapet berapa Di?”.
“Tuh liat”.
“Masa iyasih kamu dapet 3 lagi gak mungkin kan kamu sekarang nilainya dapet 100 mulu”.
Adi yang terlihat biasa saja dan tak menghiraukan omongan teman-temanya yang tidak percaya ia kembali seperti Adi dulu.
Bu Eka sedang menyapu halaman depan rumahnya.
“Selamat Sore, Bu Eka”, Bu Jamin menyapa Bu Eka.
“Selamat sore Bu Jamin”
“Bu ini saya punya beberapa brosur mengenai Lomba Olimpiade Matematika Se-Provinsi, siapa tau murid-murid Ibu ada yang tertarik”, tawarnya.
“Wahh terima kasih Bu, saya yakin anak-anak saya semua ingin ikut acara ini”.
“Sama-sama Bu”.
Keesokannya brosur tersebut dipajang dimading masing-masing kelas. Tak sengaja Adi melihat itu.
“Olimpiade Matematika Se-Provinsi akan diselenggarakan tanggal 24 November 2018, di Sekolah SMA 21 Karya Mandiri, masing-masing sekolah mengirinkan 1 tim terdiri dari 3 orang”, Adi baca dalam hati.
“Di ikutan yukk, banyak tau yang ikutan”, ajak Sanja.
“Enggak lah”.
Sepulang sekolah Adi terlihat sendirian di taman sekolah yang sudah sepi, tak banyak yang ia pikirkan ia pun mengambil brosur olimpiade tersebut, ia pun pergi untuk menengok Bu Feti dirumah sakit.
“Pagi Bu Feti, gimana kabarnya Bu?”.
“Alhamdulillah sudah lumayan baikan Adi, tumben Adi kesini sendiri, temen-temennya kemana?”.
“Heheh Adi kesini Sendiri Bu”.
“Kamu bawa apa itu, boleh Ibu lihat”.
“Ohhhh bagus ini Olimpiade Matematika Se-Provinsi lagi, Ibu yakin kamu pasti bisa, kamu ikutkan”, tebak Bu Feti.
Adi terdiam.
“Mending kamu pikirkan baik-baik, tapi ibu akan sangat bangga jika kamu ikuta serta dalam lomba ini, jarang-jarang juga kan sekolah kita ikutan lomba, apalagi nanti kamu yang akan jadi juara. Mending sekarang kamu pulang pikirkan lagi, ini adalah kesempatan buat kamu juga, jangan lupa untuk berdoa, dan minta pentunjuk, Sesungguhnya hanya kepada Allah kita berserah diri”, tutur Bu Feti.
“Baik Bu”.
Satu Minggu sebelum lomba semua terlihat sibuk membuka buku. Adi yang eterlihat begitu santai seperti dipantai.
“Di, ayoo ke aula seleksi yang mau ikut olimpiade mtk, 5 menit lagi tau”.
“Hah emng iya, kok gak ada pengumannya”, Adi terkejut.
“Kamu kemana aja dari kemarin juga udah diumumim, hayuu”.
Sesampainya di Aula, ada banyak sekali murid yang antusias, ada kepala sekolah dan Bu Eka yang mantau.
“Aihh gimana ini aku kan gak belajar”, Adi terlihat panic sebelum diberi soal.
“Semuanya waktu kalian hanya 60 menit, kerjakan dari sekarang”.
Esoknya sangat ramai didepan kantor untuk melihat hasil pengumumannya dimading.
“Wah Adi kamu nomer 1, kamu lolos kamu bisa ikut olimpiade”, ucap Tati.
“Ahhh masa”, Adi terkejut
“Adi, Vita kita satu tim”, sahut Rani
“Siap bos Rani”, kompak Adi dan Vita.
Seminggu sebelum lomba kita dibimbing belajar oleh Bu Eka, beliau memberikan kita banyak soal untuk latihan sehari-hari.
Tepat hari ini Adi, Vita, dan Rani untuk lomba, 5 menit lagi lomba akan dimulai. Dua jam sudah mengerjakan. Semua peserta dimohon untuk menunggu satu jam untuk melihat hasilnya. Satu jam sudah menunggu. Adi Melihat sosok dengan kursi roda dengan paras yang cantik masuk dari pintu, yaa benar itu Bu feti Adi senang sekali Bu Feti hadir disini.
“Dan Juara 1 dimenangkan oleh sekolah SMP 3 Gunung Jati”, pembawa acara mengumumkan.
Semua terkejut dan akhirnya bersorak gembira karena Adi dan dan teman-temanya berhasil mendapat Juara 1 Olimpiade Matematika Se-Provinsi. Adi dan teman-temanya pun segera menuju Bu Feti dan Bu Eka, mereka berterima kasih telah meminbimbing kami
“Selamat kalian ibu bangga punya murid seperti kalian”, tutur Bu Feti.
“Terima kasih yah Bu berkat doa dan support Ibu, Adi jadi yakin kalo Adi pasti bisa menghadapi ini, terima kasih udah mau membimbing Adi hingga Adi bisa seperti ini, jasa Ibu akan Adi kenang selalu, terima kasih Bu, ini adalah kado terindah untuk hari guru“, Adi terlihat sedih dan bahagia.
“Terima kasih yah bu udah mau membimbing kami dengan ikhlas , maafin kami juga kalo selama ini perilaku kami membuat Ibu sedih”, lanjut Rani.
“Iyah Bu, Vita minta maaf kalo selama ini Vita punya salah. Vita berterima kasih sama Ibu dan Ibu guru lainnya yang sudah membimbing Vita selama ini”, sambung Vita.
“Maafin Adi yah Bu Eka, Adi selama ini salah , Adi tahu Ibu pasti pengen semua muridnya rajin, pinter, dan jadi orang sukses , dan semua guru mempunyai cara berbeda untuk mengajar, maafin Adi ya Bu, Adi gak pernah ngerjain pr”, tangis Adi
Semua gembira dan bercampur haru. Semua guru punya misi yaitu menjadikan muridnya menjadi siswa/i yang berprestasi, teladan, rajin, dan semua guru memupunyai cara yang berbeda dalam mengajar. Tidak ada guru yang menginginkan muridnya jatuh. Sesukses-suksesnya kita nanti jangan pernah melupakan jasa seorang guru, kita seperti ini kalau bukan berkat kerjakeras dan doa mereka, kita tidak mungkin bisa sampai seperti ini, walaupun guru tidak selalu ada disaat kita jatuh, tapi karena doa mereka kita bisa bangkit. Terima kasih untuk para guru yang telah mendidik dan membimbing kami.
Komentar
Posting Komentar